Read This Post

Sistem Deteksi Multi Sensor untuk Pertahanan Udara Nasional

noorpramadi's picture
Oleh : Kolonel Lek Noor Pramadi
Prajurit yang cukup lama berkecimpung dalam pengoperasian dan perawatan sistem deteksi (Radar) dalam Pertahanan Udara Nasional, sudah sewajarnya jika berangan-angan NKRI memiliki sistem deteksi multi sensor yang handal dan mampu memonitor semua pergerakan pesawat/kapal yang akan melintas atau akan masuk di wilayah NKRI dengan kualitas membanggakan.   Semua warga negara dan terutama para elit sangat sadar bahwa posisi NKRI terdapat pada posisi silang dunia, yang memiliki arti bahwa posisi NKRI ibarat berada disebuah perempatan/persimpangan  jalan, setiap pengguna jalan yang berlalulalang pasti melewati perempatan/persimpangan  jalan tersebut.

Oleh karena itu posisi tersebut menjadi sangat strategis sekaligus berpotensi untuk penyalahgunaan atau pelanggaran bagi pengguna jalan tersebut, selain itu wilayah NKRI memiliki sumber daya alam yang sangat kaya.   Disamping terdapat pada posisi silang dunia NKRI juga salah satu dari hanya beberapa negara kepulauan yang unik di dunia terdiri dari 17.504 pulau (Negara kepulauan terbesar didunia), dengan demikian dalam membangun sistem pertahanan khususnya pertahanan udara tidak dapat meniru begitu saja bentuk pertahanan negara lain yang berbentuk negara pulau.   Selama ini kita belum mampu mengawasi secara penuh semua kegiatan, pergerakan,  lintas dan eksplorasi kekayaan alam kita (di darat, laut maupun udara) yang dilakukan secara legal maupun illegal.     Dengan pertimbangan tersebut diatas pembangunan sistem deteksi multi sensor untuk pertahanan udara nasional sangat diperlukan jika kita ingin memiliki sistem deteksi yang handal dan tidak mudah dikelabuhi serta diterobos, sehingga dapat memantau dan mengawasi setiap pergerakan pesawat dan kapal yang akan memasuki wilayah NKRI secara legal maupun illegal.

Sistem Deteksi Multi sensor
Mengapa diperlukan multi sensor dalam membangun sistem deteksi yang handal, karena setiap jenis sensor memiliki kelebihan dan  sekaligus kelemahan. Dengan menggelar multi sensor maka kelemahan pada sensor tertentu dapat ditutup oleh sensor lainnya, oleh karena itu penggelaran multi sensor akan menghasilkan sistem deteksi yang handal dan data hasil deteksi di udara dimanfaatkan untuk penegakan kedaulatan di udara, sedangkan data laut dan data darat dapat diberikan kepada institusi lain (TNI AL/AD, POLRI, Kementrian Kelautan dan Perikanan) yang memerlukannya.   Negara-negara di dunia secara umum telah memanfaatkan multi sensor dalam membangun sistem deteksi untuk pertahanannya berupa antara lain, Radio Detection and Ranging (Radar), Passive ESM Tracking (PET) dan Passive Coherent Location (PCL) serta didukung dengan peralatan sensor lain berupa Airborn Early Warning, Satelite Early Warning, Maritime Early Warning dan Air Traffic Controle (ATC) sensor.


Dengan demikian jika ingin mendapatkan Recognise Air Defence Picture (RAP) yang sesungguhnya (berkualitas) diperlukan multi sensor untuk sistem deteksi pertahanan udara.

Radar (Air Defence Radar)
Perkembangan teknologi Radio Detection and Ranging (Radar) long range 3 dimention (Air Defennce Radar) dengan coverage instrumented range 474 Km (256 NM) saat sekarang telah memasuki era teknologi generasi ke 3 (mulai Th 2000-an), dengan keunggulan antara lain, menggunakan teknologi solid state, menggunakan frekwensi L-Band, 3D pencil beam phase, berpeformance tinggi dalam mendeteksi target, RF Peak Power hanya 19-25 Kw, Full ECCM suite available, frekwensi management, berakurasi tinggi dalam mendeteksi target dan berbagai keunggulan lain, dengan produk berupa fix Radar, transportable dan mobile Radar, baik untuk keperluan Early Warning ataupun GCI.    Disamping memiliki segudang keunggulan Radar generasi ke 3 tetap memiliki kelemahan yang sampai saat sekarang belum dapat sepenuhnya ditanggulangi, karena Radar memancarkan gelombang elektro magnit meskipun dengan power yang telah sangat rendah hanya 19-25 Kw, namun tetap menjadi suatu kelemahan karena menjadi sangat mudah mendapatkan/menemukan posisi/kedudukan/ koordinat gelar Radar.    Kemampuan ECCM yang semakin tinggi tidak sepenuhnya aman dari kemungkinan “jamming” lawan,  karena kedudukan gelar telah diketahui maka lawan/musuh menjadi sangat mudah menghancurkan dengan cukup meluncurkan rudal berkendali “Semi-active radar homing (SARM)/High-speed Anti-Radiation Missile (HARM)atau jenis koordinat/GPS”, serta masih mengalami kesulitan untuk mendeteksi pesawat berteknologi Stealth dan UAV.     Karena Radar berfungsi sebagai mata dan telinga, sehingga dalam suatu operasi udara Radar merupakan target utama untuk dihancurkan.    Biaya untuk pengadaan, operasional dan perawatan masih relative mahal.    Dengan demikian tidaklah cukup jika sistem deteksi pertahanan udara nasional hanya mengandalkan Radar saja (satu sensor), namun diperlukan sistem deteksi multi sensor agar sistem deteksi menjadi lebih handal dan data yang disajikan mendekati kondisi riil dilapangan artinya High quality RAP (Recognised Air space Picture) for Air Defence.




Kohanudnas yang bertugas mengawasi wilayah udara nasional telah memiliki konsep gelar Radar semenjak berdirinya pada tahun 1962 dan telah menggelar sistem deteksi Radar baik fix Radar maupun mobile Radar diberbagai pelosok NKRI yang bertugas sebagai early warning Radar maupun GCI Radar.

Beberapa Negara disamping menggelar Radar long range 3 dimention, USA dan Australia telah menggelar pula OTHR (Over The Horison Radar) untuk memperkuat sistem deteksi, Radar tersebut digunakan untuk mengawasi wilayah udara dan laut sekaligus, kemampuan untuk mendeteksi mencapai jarak jangkau sampai 3.000 Km.   Meskipun jarak jangkaunya demikian jauh namun akurasi Radar tersebut masih rendah.

Sebagai sensor untuk deteksi jarak jauh yang tidak memerlukan akurasi terlalu tinggi, OTHR sangat baik untuk tugas deteksi dengan fungsi sebagai Early Warning.   NKRI yang berada di posisi silang dunia dan Negara kepulauan terbesar di dunia sudah selayaknya jika memiliki OTHR untuk memantau semua pergerakan pesawat dan kapal yang akan lintas masuk ke wilayah NKRI jauh sebelumnya, sebagaimana Australia mengawasi wilayah utaranya dan USA memantau wilayah selatannya.






Gelar OTHR untuk mengawasi wilayah NKRI.

OTHR memiliki keunggulan jarak jangkau yang jauh, namun memiliki akurasi lebih rendah.  Untuk keperluan early warning yang demikian jauh memang belum diperlukan akurasi yang tinggi.   NKRI sebagai negara kepulauan dan negara maritim pada posisi silang dunia sudah selayaknya jika berkepentingan mengawasi semua pergerakan pesawat ataupun kapal yang akan melintas jauh sebelum memasuki wilayah NKRI.   Meskipun OTHR juga tidak terlepas dari kelemahan-kelemahan, namun cukup efektif untuk tugas early warning dengan jarak yang sangat jauh sampai 3.000 Km.

Bagi negara-negara yang memiliki ancaman yang tinggi terhadap kemungkinan serangan peluru kendali, menggelar Radar khusus untuk mendeteksi missile/rudal adalah suatu keharusan.    Radar pendeteksi missile/rudal memiliki sistem antenna array  dengan arah tetap (tidak bergerak dengan coverage ±120°).    Untuk Indonesia mungkin sampai saat sekarang belum memerlukan Radar pendeteksi missile/rudal, mengingat potensi ancaman peluru kendali/ missile belum terlihat.

Passive ESM Tracking (PET)
PET (Passive ESM Tracking) adalah penamaan (kode)  yang diberikan oleh NATO untuk Passive Sensor atau Radar Pasif.    Beberapa keunggulan yang dimiliki PET dalam tugas-tugas deteksi (early warning) adalah dapat digunakan untuk menutup kelemahan-kelemahan Radar.     PET  (Kolchuga) mampu mendeteksi target yang memancarkan gelombang elektromagnit/GEM dengan perolehan data tiga dimensi (range, bearing dan altitude) dengan jarak jangkau target antara 600 – 800 Km (tergantung kekuatan signal/GEM yang dipancarkan pesawat).   Mampu mendeteksi sumber emisi di udara, lautan dan daratan.   Handal terhadap jammer, bekerja hanya sebagai receiver dengan band width sangat lebar (0,135 – 18 GHz).   Sangat sulit mendeteksi/ mencari kedudukan PET, karena bekerja hanya sebagai penerima/receiver.   PET memiliki kelemahan, yaitu memerlukan frekwensi emisi dari target untuk mampu mendeteksi.   Terdapat 2 produk PET dengan kemampuan yang berbeda, PET (Kolchuga dari Topaz Co., Ukraina) yang mampu mendeteksi sampai 600-800 Km memiliki akurasi yang lebih rendah dibandingkan dengan PET (Vera-NG dari Era Co., Czech) yang berkemampuan deteksi hanya 450 Km, namun memiliki tingkat akurasi yang lebih baik.   

PET dapat diintegrasikan dengan sistem pertahanan udara yang telah tergelar dan wilayah NKRI cukup digelar dengan 10 unit saja.   Sistem deteksi pertahanan udara menjadi sangat handal jika PET disinergikan dengan Radar yang telah tergelar.    Disamping itu diperlukan PET berkemampuan 450 Km mobile untuk digelar di daerah-daerah konflik/operasi yang memerlukan deteksi wilayah udaranya lebih ketat.
Dengan demikian High quality RAP(Recognised Air space Picture) for Air Defence dapat dicapai.

Passive Coherent Locator (PCL)
Prinsip kerja Passive Coherent Locator (PCL) identik dengan bistatic Radar yaitu Radar yang memiliki Transmitter (TX) dan Receiver (RX) terpisah.    Dengan memanfaatkan transmitter (TX) dari pemancar TV (commercial television),  pemancar Radio (commercial broadcasting station), BTS celluler dan pemancar publik lainnya atau pemancar khusus (sengaja dibuat), gelombang elektro magnit dari pemancar tersebut akan dipancarkan keudara dan dipantulkan kembali oleh badan pesawat, kemudian diterima oleh receiver PCL.  Sistem ini memiliki keunggulan antara lain, relative murah (hanya receiver), tersamar, memiliki cakupan deteksi yang cukup luas dengan memanfaatkan pemancar publik yang telah beroperasi diberbagai wilayah NKRI.


Disamping memiliki beberapa keunggulan PCL juga memiliki kekurangan atau kelemahan, yaitu akurasi yang rendah setara dengan Radar C-band (weather observation Radar), sehingga cocok untuk tugas early warning untuk membantu dan melengkapi sistem deteksi lain.    Sistem PCL ini juga telah dimanfaatkan sebagai Passive Coherent Locator for Range Safety untuk peluncuran Space Shuttle NASA di Kennedy Space Center USA digunakan mulai th 1999, produk Lockheed Martin.   Tugas PCL adalah untuk memantau pelaksanaan peluncuran terutama Identified critical tracking and surveillance requirements for Space Shuttle and Solid Rocket Boosters (SRB’s).

Meskipun akurasi agak rendah namun  sistem PCL ini mampu mendeteksi pesawat berteknologi Stealth dan UAV yang memancarkan beberapa  gelombang elektro magnit (komunikasi, Radar, control dan data).   Sistem PCL memungkinkan untuk diintegrasikan dengan sistem deteksi lainnya dalam sistem pertahanan udara nasional.     Berbagai Negara telah melaksanakan riset terus-menerus untuk pengembangan sistem PCL.    Sudah saatnya NKRI yang memiliki wilayah sangat luas dipantau dengan PCL sistem untuk melengkapi sistem deteksi yang telah tergelar atau memulai melaksanakan riset teknologi tersebut untuk alih teknologi.

Sensor ber-platform Udara, Laut dan Antariksa
 
Disamping Radar, PET dan PCL yang digelar di daratan, terdapat beberapa tipe sensor yang ber-flatform di laut di udara dan di antariksa.     Negara-negara maju telah memanfaatkan AWACS (Airborne Warning And Control System) sebagai sarana deteksi (surveillance), komando pengendalian dan komunikasi.   Penggunaan AWACS dalam pelaksanaan operasi menjadi sangat efektif dan banyak keunggulan, namun memerlukan biaya operasional dan pemeliharaan yang tinggi.

Kapal-kapal militer yang memiliki kemampuan deteksi (memiliki Radar) dan sedang bergerak di lapangan dapat setiap saat memberikan data hasil deteksinya kepada otoritas Pertahanan Udara Nasional untuk memperkuat sistem deteksi.   Konsep ini telah dilaksanakan untuk memperkuat Pertahanan Udara Nasional meskipun masih terdapat kendala-kendala teknis.

Negara-negara berkemampuan finansial tinggi,memanfaatkan media air space untuk menempatkan satelit deteksinya.   Satelit-satelit deteksi yang saat sekarang beroperasi adalah antara lain Synthetic Aperture Radar(SAR) Satelite, Earth Remote Sensing (ERS) Satelite, Electronic Intelligence (ELINT) Satelite.   Hasil deteksi satelit tersebut dapat memperkuat dan melengkapi data hasil deteksi untuk keperluan Pertahanan Udara Nasional.


Masih terdapat satu sistem sensor yang dapat memberikan data untuk melengkapi sistem deteksi.    Hasil deteksi oleh air traffic controle sensor sistem dapat pula melengkapi data sistem deteksi untuk Pertahanan Udara Nasional.    RAP akan menjadi sangat berkualitas jika semua sensor tersebut diatas diintegrasikan dan diberikan kepada RAP Production Centre (RPC).   Untuk mewujudkan ini semua perlu direncanakan dan disesuaikan dengan kemampuan anggaran Negara.

Kesimpulan
NKRI sebagai Negara kepulauan yang terletak pada posisi silang dunia dan memiliki kekayaan alam yang melimpah menjadi sesuatu yang  menarik bagi Negara lain yang berkepentingan.     Dangan demikian diperlukan suatu kemampuan untuk dapat memonitor segala kegiatan pesawat/kapal yang akan melaksanakan lintas di wilayah NKRI dan mampu melakukan tindakan pencegahan terhadap kegiatan pelanggaran.     Untuk dapat memonitor/ mendeteksi semua kegiatan pesawat/kapal yang akan melaksanakan kegiatan di wilayah NKRI diperlukan sistem deteksi dengan multi sensor agar mendapatkan RAP(Recognised Air space Picture) yang berkualitas tinggi, data dapat digunakan oleh TNI AU/Kohanudnas untuk penegakan kedaulatan di udara dan sumber emisi/data di darat dan laut dapat diberikan kepada institusi lain (militer/sipil) yang memerlukan dalam rangka penegakan kedaulatan dan menjaga asset negara.   Mengandalkan hanya satu sistem deteksi untuk memonitor suatu wilayah adalah suatu kesalahan, karena sangat mudah untuk diterobos oleh kekuatan lawan.    Matrik dibawah ini akan memberikan gambaran kelebihan dan kekurangan suatu peralatan sensor serta gambaran perolehan data RAP kualitas tinggi dengan memanfaatkan sistem deteksi multi sensor.

Multi Sensor Matrix

Pros
Cons
Multi Sensor
Synergy

Air Defense Radar  (ADR)

  1. Detection of conventional target with good cross section
  2. Co-operative IFF identification

  1. EM/electromagnetic emissions – uncovert operation
  2. Vulnerable against countermeasures
  3. Expensive acquisition and lifecycle

  1. Flexibility in any EW condition
  2. High Probability of Intercept (POI)
  3. Highly resistant composition
  4. High quality Recognized Airspace Picture (RAP)
  5. Earlier warning (long/range + identification)
  6. Faster Decision Making process
  7. Cost effective operation
  8. High mobility

Passive ESM Tracker (PET)

  1.  Covert operation
  2.  ELINT identification
  3.  Resistant to     countermeasures
  4. Cost-effective acquisition and lifecycle

  1. Needs EM/ electromagnetic emissions

Passive Coherent Location  (PCL)

  1. Covert operation
  2. SILENT/STEALTH targets detection
  3. Cost-effective acquisition and lifecycle

  1. Not matured technology
  2. No target identification
  3. Vulnerable to VHF jamming

Hasil deteksi ADR, PET dan PCL masih perlu dilengkapi data hasil deteksi dari airborn early warning, early warning Satelite dan maritime early warning serta air traffic controle sensor system, sehingga High quality Recognized Airspace Picture (RAP) dapat dicapai dan pengawasan dan pengendalian wilayah udara NKRI dapat diwujudkan secara nyata.      Untuk mewujudkan integrasi sistem deteksi multi sensor diperlukan biaya besar, dengan demikian perencanaan pentahapan dengan kombinasi sistem sensor yang tepat dapat dilakukan sesuai kemampuan anggaran Negara dan tidak hanya terfokus pada satu sistem sensor saja. Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka :
  1. Air Force Modernization Planning, http://www.fas.org/man/dod-101/usaf/docs/map/sad/ 96_sad.html, Sept 2009.
  2. AN/TPS-71 ROTHR (Relocatable Over-the-Horizon Radar), http://www.fas.org/nuke/guide/usa/airdef/an-tps-71.htm, Sept 2009.
  3. JP 2025 - Jindalee Operational Radar Network (JORN), Sept 2009.
  4. Kolchuga Passive Sensor, http://en.wikipedia.org/wiki/Kolchuga_passive_ sensor, Agst 2008.
  5. Merrill I. Skolnik, Radar Handbook, Mc Graw Hill Third Edition, 2008.
  6. Passive Coherent Locator for Range Safety , http://rtreport.ksc.nasa.gov/techreports/ 2002report/300%20Range%20Tech/305.html, Sept 2009.
  7. Passive Coherent Location System: Simulation and Evaluation, http://www.erabeyondradar.com/documents/white-papers/Surveillance/pcl-system-simulation-and-evaluation.pdf, Sept 2009.
  8. Sensor Pasif Kolchuga, Topaz Co. Ukraina, 2008.
  9. Sensor Pasif Pu Guk Song, Lim Myong Su Co., Korea Utara, 2007.
  10. Sensor Pasif Vera-NG, Era Co. Czech, 2009
Riwayat Penugasan Penulis :
  1. 1984-1986,  Depohar 50  (Radar).
  2. 1986-2002, Jajaran Kohanudnas (Satuan Radar dan Popunas).
  3. 2002-2004, Pangkalan Udara.
  4. 2004-2009, Dislitbangau (bidang Radar).
  5. 2009- sekarang, Jajaran Koopsau I. 

Do Your Best, Share Our Article

Related Posts

1 Response to Sistem Deteksi Multi Sensor untuk Pertahanan Udara Nasional

Anonim
Minggu, 27 Desember, 2009

Beh...nyelimet bangett...ampiunnnnnnnn

Posting Komentar