Read This Post

Postur Pertahanan : Apakah yang dimaksud MEF, Minimum Essential Force (Kekuatan Pokok Minimum)?

Oleh: Edy Prasetyo*

Postur pertahanan adalah gambaran tentang kekuatan pertahanan yang mencakup kemampuan, kekuatan, gelar kekuatan, serta sumber-sumber daya nasional. Secara universal, postur pertahanan hampir semua negara dirancang untuk dapat melakukan fungsi penangkalan atau mempunyai daya tangkal dan mampu menjalankan peperangan.


Oleh karena itu, postur pertahanan harus dirancang atas dasar pertahanan eksternal yang dirumuskan dalam penerapan strategi pertahanan tertentu. kekuatan pertahanan yang kredibel tidak pernah lahir dari pertimbangan kemampuan untuk menghadapi konflik internal. Kekuatan pertahanan yang dirancang untuk menghadapi kekuatan eksternal sebagai basis pertahanan mempunyai fleksibiltas lebih tinggi dan dapat dikerahkan untuk mengatasi konflik internal. Sebaliknya, kemapuan yang dirancang untuk menghadapi konflik atau ancaman internal tidak akan mampu menghadapai ancaman militer eksternal, terutama jika ancaman militer eksternal tersebut menerapkan strategi penguasaan atau penghancuran center of gravity pertahanan negara.

Dalam berbagai diskusi tentang pertahanan negara dari pernyataan pemerintah, konsep/pemikiran tentang Minimum Essential Force, MEF (Kekuatan Pokok Minimum) tampaknya menjadi dasar dari pengembangan postur pertahanan Indonesia. Implementasi dari MEF adalah stabilisasi kekuatan ANgkatan Darat dan pengembangan dan modernisasi Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Pemikiran ini lahir dari pertimbangan keterbatasan dukungan finansial untuk mengembangkan kekuatan pertahanan.

Konsep/pemikiran tentang MEF masih harus dielaborasi. Pertama, minimum terhadap apa? Diukur dari aspek apakah tingkat minimum tersebut? Juga, apa yang disebut essensial bagi negara tertentu, bisa jadi essential bagi negara lain. Minimum bisa diukur dari tingkat ancaman. Ini pun masih dipertanyakan:ancaman internal atau eksternal. Kemampuan analisa ancaman menjadi sangat penting untuk menentukan kekuatan pertahanan. Biasanya analisa ancaman disertai dengan analisa skenario/kecenderungan ke depan yang harus diantisipasi sebagai dasar pengembangan postur pertahanan. Pakah minimum tersebut diukur atas dasar capability yang akan dibangun? Pertimbangan ini biasanya dilakukanoleh negara-negara yang mempunyai dukungan finansial, teknologi, dan sumber daya yang kuat.

Masalah kedua adalah apakah minimum diukur dari luasnya geografi sebagai negara kepulauan dengan wilayah laut yang luas dan terbuka? Luas wilayah biasanya melahirkan analisa tentang titik-titik rawan ancaman atau analisa wilayah-wilayah vital yang menjadi prioritas pertahan Indonesia. Jika hal ini sudah ditentukan, kekuatan yang dibutuhkan masih harus ditentukan oleh kuantitas dan kualitas personil dan alutsista.

Ketiga, tingkat minimum bisa juga dilihat dari analisa perimbangan dengan kekuatan terbesar di kawasan. Di sini, analisa lingstra eksternal dan konstelasi kekuatan regional akanmenjadi dasar pengembangan kekuatan pertahanan. Apakah kita akan menjadikan Australia, Singapura, proyeksi kekuatan China, Jepang, atau India sebagai ukuran minimum pengembangan postur pertahanan Indonesia?

Hal keempat adalah bahwa ukuran minimum bisa juga dilihat dari ketersediaan sumber-sumber nasional untuk pertahanan. ini adalah MEF yang bersifat budget-based defence. Variabel anggaran menjadi penentu pengembangan kekuatan pertahanan. Dalam situasi ini pun sulit menentukan pilhan, apakah harus memprioritaskan pengembangan kemampuan bertahan (defensive) dan kontrol wilayah dengan menekankan pada kemampuan surveillance dan reconnaisance ataukah mengembangkan kekuatan pukul (striking force) minimal karena keterbatasan anggaran.

Masalah kelima yang harus diperhatikan adalah MEF juga tergantung dari strategi pertahanan yang diterapkan/dipilih. Strategi pertahanan continental mempunyai syarat minimal kekuatan pertahanan yang berbeda dengan strategi pertahanan maritim yang biasanya bersifat external projection. Pertahanan dengan strategi deterrence by denial mempunyai kriteria minimum berbeda dari deterrence by punishment. Strategi penangkalan MAD berbeda Amerika Serikat yang menerapkan strategi deterrence by punishment yang mensyaratkan pengembangan rudal nuklir mematikan seperti MX-10 Peacekeeper, Minuteman, dan Submarine-based nuclear missiles sangat berbeda dari strategi penangkalan AS atas dasar denial melalui pengembangan strategic Defence Initiative (SDI) dan National/Theatrical Missile Defence (NMD/TMD).

Jadi MEF tidak sekedar minimum. Arah dari MEF akan menjadi jelas jika pemerintah segera menentukan tujuan pertahanan dan strategi pertahanan yang akan ditempuh. JIka hal ini sudah ditentukan, pengembangan komponen utama, komponen cadangan, dan komponen pendukung dapat diarahkan pada satu tujuan pertahanan yang jelas sehingga apa yang disebut minimum dapat dielaborasi dengan kriteria dan kebutuhan yang jelas.

*Edy Prasetyono adalah Peneliti Senior pada Departemen Hubungan Internasional, Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dan dosen di jurusan Hubungan Internasional, FISIP-Universitas Indonesia.

Do Your Best, Share Our Article

Related Posts

No Response to "Postur Pertahanan : Apakah yang dimaksud MEF, Minimum Essential Force (Kekuatan Pokok Minimum)?"

Posting Komentar